15
Seperti biasanya Lia paling rajin pergi ke surau (Meunasa) untuk menunaikan sholat berjama"ah di sana sampai waktu Insya, di malam ini bulan Purnama dengan cahaya bulan yang menerangi kampung Julia, Sejak bergabung dengan GPK Munirpun rajin sholat berjama'ah dan mengikuti pengajian di Meunasah, namun malam ini Julia tidak mengikuti pengajian sebab ada janji untuk berjumpa dengan Munir, saat sholat Maqrib selesai Julia turun dan keluar dari area Meunasah menuju persawahan dibelakang rumah Julia, tepatnya di Rangkang (tempat istirahat saat orang-orang tanam padi) di sawah nenek Julia mereka duduk berduaan sambil memandang bulan purnama, disini Munir bercerita tentang dirinya, bagaimana dia berusaha belajar membaca surat-surat dari Julia, yang sebelum ini dia tidak pandai membaca, maklumlah dia hanya bersekolah / mengecapi pendidikan hanya satu tahun sahaja yaitu sekolah dasar hanya mengenali huruf -huruf sahaja,
Munir : dek tau ngak macam mana caranya abang baca surat-surat dari adek?Julia : tak tau, paling juga suruh orang lain baca, sambil Lia tersenyum,
Munir : hehehe abang mengejalah dek satu persatu samapi selesai, sejak abang kenal adek abang selalu mengambil sobekan surat kabar untuk latihan membaca, adeklah guru untuk abang, karena surat-surat dari adek yang membuat abng bisa membaca,
Julia : syukurlah kalau begitu adanya,
Mereka hanya berbicara soal yang begituan , mereka hanya duduk berdua tak ada siapa yang melihat tapi Munir tak menyentuh Julia sama sekali, itu yang membuat Julia semakin sayang dan percaya pada Cintanya Munir, Setelah mereka berjumpa selama 30 menit merekapun kembali kerumah masing-masing,
Sejak kejadian penangkapan itu Munir dan Nasar juga bang Jabar merasa risih tinggal di kampung sebab segala gerak-geriknya (tingkah laku, kegiatan ) mereka di pantau oleh pihak Tentara yang bertugas saat ini, walau sedikit ada ruang di hati keluarga Lia tentang Munir tapi soal Hubungan tetap tidak boleh, Sebulan genap Munir dan Nasar harus melaporkan diri setiap hari, karena tak tahan dengan kemelut ini Munir dan bg Jabar abang dari Nasar dan juga sepupu Julia mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan kampung halaman daripada jadi incaran para Anggota pasukan dari Jawa ,
30 Oktober 1990. Munir memberi khabar pada Julia mau berjumpa dengan nya, dan mereka berjumpa di Tengah Hutan tambak belakang rumah Julia, disini Julia dan Munir duduk di atas pohon tumbang yang sudah kering, mereka berjumpa tak ada siapa yang tau kecuali ALLAH,
Munir : dek abang mau pergi meninggalkan kampung ini,
Julia : mau pergi kemana ?
Munir: Negeri seberang (Malaysia)
Julia : dengan siapa? naik apa?
Munir: dengan bang Jabar dan kawan-kawan,
Julia : kapan mau berangkat?
Munir: nanti malam tapi adek harus rahasiakan kepergian abang,
Julia : Iya,
mereka duduk memang berdekatan tapi tak sedikitpun Munir menyentuh Julia, Munir hanya mengusap kepala Lia yang rambut Julia terurai panjang sampai ke pinggang dan mengecup kening Lia sebagai tanda perpisahan, dan dia pamit untuk pergi.
Walaupun berat rasanya melepaskan dia pergi namun Lia berusaha untuk tabah karena itu antara hidup dan mati jikalau ketahuan oleh pihak keamanan.
Sore ini adalah sore terakhir antara Munir dan Julia sebelum pamit Munir memberikan Jaket Blue Jean sebagai tanda mata untuk Julia jikalau Julia rindu, dan Munir berlalu pergi setelah menyerahkan Jaket tersebut pada Julia, Juliapun kembali kerumahnya karena hampir menjelang Maqrib,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar