Minggu, 05 April 2015

**JARAK DAN WAKTU YANG MEMISAHKAN DUA INSAN**

     Dalam 4 hari Lia berada di kampung dan Julia pamitan untuk pergi ke Sigli untuk silaturrahmi kerumah kakak , dan disini Lia disambut dengan penuh kerinduan dan berjuta kasih sayang karena kak Nourma dan suaminya sangat sayang dan perhatian pada Lia, apaun yang Lia mintak, dua hari disini Lia mintak izin untuk berkunjung kerumah Susanti dan mengajak hajar untuk ikut serta, Sebelum Lia berangkat ke Sigli Lia sempat memberi surat untuk Munir agar datang ke Meredu ke rumah Susanti dan mereka berencana jalan-jalan, Hajar mengajak M yusuf abang sepupu dia untuk mengantar mereka sampai rumah Susanti, Tiba Lia di keluarga Susanti dan tak Lama Munirpun tiba disini, mereka disambut oleh keluarga Susanti dengan sangat baik, setelah makan siang mereka berangkat ke taman wisata Batu Nilam yang tempatnya sangat indah dengan aliran sungai yang jernih, untuk mereka sampai ke sungai tersebut mereka harus menaiki 300 anak tangga yang sedikit terjal, mereka berada di tempat rekreasi ini hanya 1 jam sahaja dan setelah mereka puas menikmati pemandangan alamnya mereka pun kembali kerumah Susanti, Ada yang sedikit mengherankan, Kok bisa-bisanya Munir datang untuk berjumpa Lia di lokasi yang sanagt jauh dari kampung halaman, Disebabkan di kampung mereka tak bisa leluasa bertemu dan Munir nekad untuk datang juga menemui Lia di tempat yang asing, karena Lia sendiri baru kenal dengan keluarga Susanti namun mereka sudah sangat akrab dikarenakan hubungan baik Lia bersama Susanti selama di jakarta berjalan baik, dan mereka bagaikan satu keluarga, usai jalan-jalan Munirpun kembali ke Simpul dan Lia bersama-sama hajar kembali ke kota Sigli, karena Cinta jarak bukanlah penghalang untuk bisa berjumpa.
      Lia menikmati Liburan di rumah kakaknya selama satu minggu, sememangnya Lia lebih banyak menghabiskan masa cutinya di rumah kaka ketimbang di rumah orang tua Julia, Seminggu telah berlalu dan Juliapun pamit untuk kembali kerumah orang tua Julia biar ada sedikit masa lagi untuk dapat bersama-sama ibu bapak Julia,
        Sholat insak berjama'ah pun dah Lia laksanakan dengan sempurna dan ini adalah malam terakhir Lia untuk berjama'ah di surau ini, Lia kembali kerumah Lia santai sejenak untuk merenungi keputusan yang sudah Lia buat dari hasil perjumpaan tadi , Lia mendesis dalam hati mungkin sudah nasib Lia tidak berjodoh dengan orang yang paling Lia sayangi, Padahal Lia sudah berjuang sekian lama untuk mempertahankan hubungan mereka namun kandas jua, Tersadar dari lamunan saat ibunda Lia memanggil dari balik pintu
Ibu   : Lia jadi ngak bawa Emping ni, jangan sampai tinggal,
Julia : ya bu, jadi ntar Lia ambil,
         
         Lia pun bersiap-siap mengemaskan barang-barang bekalan yang mau Lia bawa ke Jakarta, Lia ambil barang-barang yang sudah ibunda siapkan untuk oleh-oleh yang akan Lia bawa serta, Malam menjelang Lia tak bisa tidur, jantung Lia berdebar-debar ada yang hilang disana, hati Lia terasa hampa tapi Lia telah mengikhlaskannya demi kebaikan orang-orang yang akan  Lia tinggalkan,
          Ketika sinar pagi telah memasuki cahayanya dari celah-celah jendela(tingkap) kamar, Lia pun tersadar bahwa Lia akan segera meninggalkan kampung halamannya untuk masa yang panjang,, Lia beranjak pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh Lia yang lesu  sebab semalaman Lia tak tidur nyenyak, Usai mandi Lia langsung berkemas dan Lia pamitan pada ibu Bapak Lia juga dengan Maya adik satu-satunya Lia punya, Semua menangis melepaskan kepergian Lia, Haru biru tangisan mereka sebab Lia pergi ke ibu Negara yang sangatlah jauh dari kampung halaman Julia dan itu sanagat lah tidak memungkinkan apabila orang tua Julia untuk dapat meraih ke sana, jarak tempuh yang harus mereka lalui adalah 3 hari 3 malam dengan naik Bus tapi kalau naik pesawat hanya 3 jam sahaja, Keluarga Lia adalah keluarga yang sederhana jadi tak mungkin kalau Lia boleh bepergian dengan pesawat, mau tak mau harus naik Bus, Lia segera mengangkat tasnya setelah bersalaman dengan ahli keluarga dan nenek tersayangnya , Lia sangat sayang dengan nenek Basiah dan Lia sangat akrab dengan nenek sebab nenek sangat memahami  perasaan Cinta Lia dengan Munir dan nenek juga sayang pada Munir, namun nenek tak bisa buat apa,
          Lia diantar oleh bapak sampai ke kota Simpul, disini Lia menunggu Bus Pelangi dari arah Barat dan akan meluncur ke Timur, Lia menunggu Bus tiba sampai 1 jam barulah muncul Bus yang Lia nanti-nantikan, Sebelum Lia naik ke dalam Bus Lia bersalaman dengan orang-orang yang setia menemani Lia sedari tadi, Semua barang naik dan Lia mengambil tempat duduk dan melambaikan tangan pertanda perpisahan dan selamat tinggal, 
           dalam kesendirian sepanjang jalan Lia termenung teringat kisah kasihnya yang telah kandas, kini Lia hanya menumpukan pikirannya pada pelajaran di Kampus nantinya saat Lia tiba di Jakarta, Selama 3 hari 3 malam Lia keseorangan di Bus walau banyak orang mencoba dekati Lia namun Lia tidak tertarik, Tibalah Lia dengan selamat, Rupanya kawan -kawan Julia sudah terlebih dahulu berada di Jakarta dan Lia pun bersalaman dengan kawan-kawan semua sebab walaupun mereka sama-sama balik ke Aceh namuan disebabkan tempat tinggal mereka berjauhan jadi tidak bisa berjumpa.
             Dua hari kemudian Lia dan kawan-kawan kembali masuk Kampus untuk memulai belajar semester akhir, hari-hari yang Lia lalui selalu dalam keceriaan walau Lia menyimpan banyak kesedihan sementara tak ada siapa yang tau apa yang sedang bergejolak dalam dada Lia, Lia berusaha sekuat hati Lia untuk menyimpan kesedihan yang amat memilukan 

Sabtu, 04 April 2015

~CINTA TAK SELAMANYA HARUS DIMILIKI~

           Sore ini Lia harus berjumpa Munir di rumah makcik Julia yang berada tidak jauh dari gudang tempat Munir berniaga, Munir datang membawa udang Tiger 1kg untuk di masakin Indomie kari oleh makcik  Ros yang selalu setia pada mereka berdua, Melihat Munir dah bawa udang, makcik cepat-cepat memasaknya sebab Lia tak punya waktu banyak untuk bisa bersama-sama Munir karena kalau Orang tua Julia habislah mereka kena marah, tak lama Indomie nya pun siap untuk di sajikan, Julia dan Munir makan sepiring berdua, suasana sangatlah romantis namun mereka duduk berjauhan tak tersentuh satu sama lainnya, itulah hebatnya Cinta Munir yang membuat Lia yakin dan percaya padanya, Sambil makan Munir memberi usulan pada Lia, apakata kita  diam-diam menikah dan abang pergi ke Malaysia dan adek tetap melanjutkan belajar di Jakarta,Usai perut kenyang barulah Lia angkat bicara  membahas soal hubungan mereka;
Julia   : Maaf bang, Lia bukan tak mau menikah sekarang, tapi ini dah terlambat,
Munir : Mengapa terlambat?
Julia  : Lia tak yakin sebab Lia dah janji dengan orang tua,
Munir : terus sekarang gimana donk?
Julia   : Lia minta maaf yang sebesar-besarnya, Lia mohon untuk sementara ini kita break dulu, tak mungkin donk kalau abang harus menunggu adek kalau dalam waktu yang lama, agar tak ada yang tersakiti, adek memberi kebebasan untuk abang, dan mulai sekarang abang Lia anggap saudara,
Munir : apa? break? apa ngak salah?
Julia   : tak ada yang salah bang, ini demi kebaikan abang, Lia tak mau menyiksa abang harus menunggu Julia dalam waktu yang lama, abang seorang laki-laki tak pantas menunggu seorang perempuan seperti adek,
Munir : mengapa pula tak mungkin? kalau abang mau, abang bisa kok tunggu sampai kapanpun, tapi jika ini kemauan adek, abang nurut aja,
Julia   : nah! gitu donk, kita harus mengikhlaskan dulu, kalau kita jodoh pasti akan berjumpa lagi INSHAALLAH,
Munir : ok lah dek kalau memang itu keputusan adek,
Julia   : tapi adek harap antara kita tetap baik-baik aja,
Munir : ya pasti donk.
             Diakhir pembicaraan antara Munir dan Lia , Munir berpesan "Rajin-rajinlah belajar semoga cepat sucses dan tercapai apa yang Lia cita-citakan " Dan Lia mengangguk sambil merintih dalam hati selamat tinggal Cintaku, Aku ikhlas karena Cinta tak selamanya harus memiliki"
             Setelah deal dan makananpun sudah habis lalu Lia pamit untuk pulang takut nanti orang tua Lia mencari-cari dan Lia bersalaman dengan Munir dan makcik Ros, dan Lia pulang melalui jalan tepi sawah karena Julia mau singgah kerumah Makcik Julia yang lain untuk silaturahmi, Makcik Julia yang bernama Ainul dia sangat setuju hubungan Julia tapi makcik tak berani membantah kata-kata ibunda Julia yaitu kakak dari makcik Ainul, Makcik Ainulpun sangat sayang pada Julia sebab makcik tak memiliki anak perempuan, Lia yang selalu ceria dan ramah dengan semua orang jadi kemanapun Lia melangkah mereka menyambut Julia dengan sangat baik, 
        Pemandangan sawah yang terbentang luas yang membuat mata Lia jauh memandang kedepan, dulu di sawah ini mereka sering main layang-layang, masa kecil yang amat menyenangkan, namun kini Lia tak bisa melalui lagi masa-masa ini karena Lia dah belajar di jakarta hanya sesekali masa cuti Lia boleh kembali, Matahari senja dah hampir terbenam Julia tersadar dari lamunannya bahwa Julia harus cepat pulang kerumah dan bersiap untuk berangkat ke surau menunaikan sholat berjama'ah sambil bisa jumpa dengan kawan-kawan yang lainnya, Ibadah dapat, jumpa kawan juga dapat karena kalu Lia diam dirumah Lia tak bisa jumpa siapa-siapa di waktu malam, Penjagaan dari Orang tua Lia sangatlah ketat, mereka hanya mengizinkan Lia pergi ke Surau sahaja, Kalau ada Ceramah di banda pun mesti ibunda ikut serta, tak akan di izinkan pergi bersama-sama kawan-kawan seumuran Lia, Takut ada yang mengganggu nanti di jalan, karena lumayan juga jaraknya kalau mau ke Mesjid Raya Baitul Karim, 
            



Kamis, 02 April 2015

^_^ BERJUMPA UNTUK BERPISAH ^_^

     



       Bulan ramadhan pun tiba, kali ini Ramadhan ke dua kalinya Lia di Jakarta, Seperti tahun sebelumnya Lia rajin bangun sahur tapi mesti boleh buka radio, Lia bangun setiap pukul 2:00 am Lia senantiasa terbangun, karena Lia tau kalau kawan-kawan yg lain sudah terbiasa di rumahnya tak masak sahur karena bersama keluarga, lain halnya Julia,Lia lebih suka bangun sahur lebih awal, selain Lia mau membantu orang< Lia juga ingin menikmati lagu-lagu kenangan yang selalu di putar di Radio-radio, Lia merasa senang jika bisa membuat orang lain puas, Lia hanya membangunkan kawan-kawan tepat pukul 4 untuk makan karena Lia sudah menghidangkan di meja makan,
            Habis sahur tunggu sholat subuh & dan melanjutkan dengan Jogging lepastu barulah Julia tidur sebab Jam Kuliah pukul 2:30pm, Hari -hari yang sangat indah untuk Lia,  dan rencana tahun ini hendak merayakan Lebaran di kampung halaman,
Lia dan kawan-kawan mulai mempersiapkan diri, banyak oleh-oleh yang mereka persiapkan untuk keluarga, Setelah pihak Kampus mengumumkan berapa hari Libur (cuti) barulah mereka menentukan tanggal keberangkatannya,,Tibalah saatnya Julia dan Susanti dan Hajar balik kampung walau berbeda daerah, Kali ini Susanti turun sama-sama dengan Lia sebab Susanti mau berkenalan dengan orang tua Lia, Sore hari  tibalah mereka ke kampung halaman Lia yang penuh kenangan, sampai di depan rumah dan Lia mengetuk pintu
Julia  : Assalammua'laikum
Ibu    : A'laikumsalam, ibu Julia menjawab dari dalam rumah dan langsung membukakan pintu dengan wajah terkejut sebab Lia dan Susanti sudah tiba dalam keadaan selamat, dan ibupun spontan berucap "ALHAMDULILLAH" Orang tua Lia menyambut dengan penuh haru karena hanya berjumpa dengan putrinya ini setahun sekali,  Berhubung waktu buka puasa hampir dekat, lalu ibunda Lia menghidangkan makanan untuk buka puasa bersama, Esok pagi menjelang Lia membawa Susanti jala-jalan keliling kampung Lia dan berjumpa dengan kawan-kawan Lia yang ada di Kampung ini, Tak lupa juga Lia perkenalkan Susanti dengan Munir dan Susanti juga Lia bawa ke Tambak Udang milik keluarga Lia, Karena Lokasi tambak berdekatan dengan rumah Munir jadi bisalah  Lia gunakan kesempatan ini untuk dapat berjumpa dengan Munir diam-diam, Hanya dengan sering Lia pergi ke Tambaklah hati Lia bisa terhibur karena suasana Tambak lebih nyaman dan Julia sangat suka melihat pemandangan kawasan Tambak Julia, Setelah saudara-saudara Lia kenalan dengan Susanti dua hari kemudian Susanti bertolak pulang kerumah orang tuanya di Meredu yang jarak tempuh dengan kampung Lia 5 jam perjalanan dengan Bus, 
          Baru dua hari Julia di kampung, semua orang bertanya-tanya, adakah Julia sudah bertemu dengan kekasihnya itu? karena semua orang Kampung sangat simpati pada hubungan Munir dan Lia, Mereka prihatin sebab menurut penduduk kampung mereka berdua adalah pasangan yang amat serasi, mereka dua -duanya sama-sama tinggi dan keras namun hati mereka baik, selalu bersikap ramah dan santun dengan semua orang, walaupun ada orang yang jahat terhadap mereka namun mereka tak pernah berdendam, Sifat Munir dan Julia banyak kesamaan, sama-sama setia menjaga persahabatan dan suka menolong orang yang membutuhkan jasa mereka,
      Disebuah desa yang hanya didiami oleh 202 Kepala Keluarga, disini telah bersemi Cinta antara dua insan yang saling mencintai dan di sini jualah Cinta mereka berakhir, Hanya keadaanlah yang memaksa mereka harus berpisah,
Lia merancang untuk berjumpa dengan Munir dan akan membahas tentang hubungan mereka, agar tidak ada yang merasa tersakiti,

Rabu, 01 April 2015

~BERKORBAN DEMI ORANG TUA~

           Bapak kost Julia adalah Kolonel laut Andi Monojenggi, Mereka tinggal di rumah paling ujung di kompleks ini sepi dan nyaman untuk mereka belajar, Walau banyak pemuda yang suka  pada Lia tapi Lia biasa-biasa aja pada mereka, karena Lia belum bisa melupakan kekasih hatinya yang di kampung, Walaupun Lia sadari bahwa Lia dan Munir tak akan mungkin bisa bersatu karena jurang pemisah antara mereka berdua semakin dalam, Apalagi Julia sudah dikirim jauh ke Jakarta hanya untuk di pisahkan dari Munir, Menurut keluarga Lia, Lia tak sebanding dengan Munir,
            Keluarga Lia sama sekali tidak memikirkan betapa hancurnya hati Julia saat mendengar pengakuan keluarga, dia pemabuk tak pantas menjadi menantu keluarga ini, Sebab itulah Lia berada di Jakarta kota Metropolitan, Walau demikian Julia tidak pernah silau dengan gemerlapnya kota Jakarta, Lia tetap menjaga Citra diri sebagai orang Nangroe ACEH  yang menjunjung tinggi harkat dan martabat Bangsa Aceh, Ditanah Rencong Lia di lahirkan , Semboyan yang Lia pegang teguh"HUDEP SARE MATE SYAHID", Makanya Lia senantiasa menganggap kawan-kawan satu Angkatan Lia sebanyak 57 orangdari Aceh Lia sudah menganggap mereka adalah saudara-saudara Lia , Tak ada perbedaan (sempadan) bagi Lia, Lia seorang yang penyayang, setia kawan, apapun yang lia perbuat untuk kawan selalu Ikhlas tak mengharapkan balasan karena Lia yakin Allah Maha Pengasih & lagi Maha Penyayang, bagi Julia jika dia dapat membantu atau membuat kawan senang itu juga merupakan satu kebahagian buat Lia, bukan bermakna biar Lia di panggil orang baik1 Tidak sama- sekali, Lia lakikan karena Allah S.W.T.
           Hari-hari Lia lalui dengan penuh tawa canda walau sebenarnya hati Julia menjerit perih, pilu saat mengenang kisah Cintanya yang terhalang, Lia sering berkirim surat kepada kekasihnya itu, Lia berharap Jika nanti Lia sucses dan boleh jadi seorang Nakhoda dan Lia akan minta restu pada orang tua untuk menikahkan dirinya dengan Munir kekasih hatinya, itu yang terpatri dalam hati Julia, Lia pikir kalau Lia nantinya sudah boleh memberi banyak duit untuk Orang tua barangkali urusan Lia akan berjalan lancar jadinya, Lai larut dalam hayalannya yang sedang duduk di beranda rumah dibawah sinar rembulan, tiba-tiba lamunan Lia terhenti saat salah satu teman Julia keluar dari kamarnya:
Susanti : Hei kawan! apa yang kamu pikirkan?
Julia     :  Ya , saya lagi memikirkan sang Arjunaku di kampung nan jauh di mato.
Susanti : oh sorry saya dah menganggu mu
Julia     : ah tak lah, justru sekarang saya mau ceritakan padamu, itupun kalau kamu mau dengerin,
Susanti : tentulah saya mau dengerin kawan, mana tau bisa mengurangi beban pikiranmu.
         
           Juliapun mulailah menceritakan kisah Cintanya pada sahabatnya itu, Susanti tak menyangka kalau Julia mengalami kisah cinta yang teramat pahit, Lia relakan dirinya jauh dari kekasih hanya untuk membahagiakan keluarganya, Bagi keluarga Lia asalkan Lia tak jumpa Munir lagi mereka merasa tenang , Lia hanya mencoba mengikuti kemauan orang tua sambil Lia membuat rancangan selanjutnya untuk mereka tetap boleh berjumpa lagi.
Saat ini Lia hanya butuh kesabaran agar bisa menyelesaikan pelajaran di kampus, Walaupun banyak kawan-kawan yang selalu setia menghibur Julia namun Lia tetap masih ingat kekasih lamanya, Kalau beberapa waktu yang lalu ada Ari juga Uci yang selalu menemani Lia, sekarang yang sering datang kerumah hanya Soleh Haryono dan Ampera Warman, itupun karena mereka akrab dengan Susanti, Lia biasa-biasa aja, karena mereka baik dengan Lia maka Liapun bersikap baik pada mereka, Ridwanpun terkadang balik kampus singgah kerumah hanya untuk ngobrol-ngobrol 



**UPACARA PEDANG PORA**

          Suara kicauan burung yang merdu membuat Julia terbangun dari tidurnya dan Langsung menunaikan ibadah sholat subuh, dilanjutkan dengan mandi sebab nanti takut antri karena seawal pagi Upara pedang pora akan diadakan, Semua bangun dan bersiap untuk memakai baju seragam PDU (Pakaian Dinas Upacara ), setelah mereka rapi semua keluar Asrama menuju ruang Audiotorium untuk memulai Upacara , Acara di pimpin oleh Lia dan Novi, LIa merangkap membacakan Puisi untuk Pasangan Pengantin, Upacara hanya berlangsung satu jam dan dilanjutkan Acara makan-makan bersama dengan para tamu Undangan, Setelah makan acarapun Bubar, Yang tersisa hanya kawan-kawan yang sibuk berpose dengan pasangan pengantin, Lia kembali ke Asrama untuk ganti pakaian, tak mungkin donk Lia mejeng dengan seragam,
          Lia paling cepat dalam hal ganti pakaian sebab dandanan Lia sangat simple, sikap Lia yang Tomboy, cuek tapi dia periang, Disebabkan tadi Lia kurang puas pegang Mix di Upacara tadi, tak sabar Lia ambil perlengkapan musik langsung berkaroeke sepuas-puasnya dan setelah kawan semua istirahat barulah Lia mengajak kawan-kawan untuk jalan-jalan sore di kota Salatiga untuk yang terakhir kali, karena besok pagi mereka sudah kembali ke Jakarta,
         Malam menjelang Taruna/ni yang ada di Asrama semua sudah tertidur nyenyak, hanya Julia tak bisa tidur lagi sebab baru sebentar Julia tidur Lia dikejutkan oleh mimpi yang sangat menyeramkan, yaitu datang sesosok manusia raksasa hitam menghimpit Julia, dalam mimpi Julia menjerit menyebut nama Allah dan akhirnya setan itupun menghilang namun julia tidak bisa melanjutkan lagi tidurnya karena ketakutan, Sampailah waktunya subuh Lia keluar kamar untuk berwudhu dan diakhiri dengan shalawat ke atas Nabi Muhammad S.A.W ,
         Sinar fajar pagipun menyingsing masuk dari celah- celah jendela (tingkap) Asrama dan kawan-kawan Julia pun mulai bangun satu persatu ,Mereka bersiap-siap untuk kembali ke Jakarta sebab Bus sudah menunggu, Semua sudah pada rapi dan menuju ke Bus, Pukul 8 :00 am Bus tujuan Jakarta pun siap untuk meluncur , Perjalanan berjalan lancar dan selamat tiba di Kampus AMAN JAYA Jakarta pukul 5;00pm , Julia , Susanti ,Hajar  tinggal serumah di Komplek Angkatan Laut ,Gang VII, no 13



,

KEMBALINYA ASMARAKU YANG HILANG 2

       Pertama kali Julia menginjakkan kakinya Kembali di Bumi Aceh seakan bagai dalam mimpi karena kepulangan secara tiba-tiba dan dalam k...