Rabu, 04 November 2015

Antara Suka & Duka

          Tak membuang masa Ko an langsung memeluk adeknya itu karena mereka sudah lama tidak berjumpa, dan Pengky membalasnya dengan penuh kerinduana.
Ko An  : hai Ping uli dije ci? (dari mana kamu)
pengky : Uli Malang dekat rumah timpal (dari rumah kawan di Malang)
Ko An  : ngudiang ci mai (ngapain kamu kesini?)
Pengky : ngaleh Ko An nak sileh pes (nyari Ko an mau pinjam duit)
Ko An  : ngudiang nak sileh pes? Ko An seng ade pipes ( buat apa mau pinjam duit? ngak ada duit
Pengky : alah sileh jap, seng ngelah ben nyanan nguliang beh , ngape pes bedek gen be telah Ko
               ( alh pinjam bentar, nanti saya kembalikan sebab duit Ping sudah habis ni)
Ko an   : nyen tu nak loh? ( siapa itu perempuan )
Pengky :Tunang Ping uli Jakarta (pacar Ping dari Jakarta)
Ko an   : oh cegek care nak arab dih ( oh cantik kayak orang Arab ya)
Pengky : iye lah
Ko An :  jab nah! KO An oren ajak Bos malu ( bentar ya Koko kasih tau Bos dulu)

          Setelah mereka ngobrol, Ko An pun masuk kedalam kedai dan Pengky mengikutinya ke dalam, tak lama merekapun keluar, Pengky tersenyum-senyum dan menghampiri Lia dan Ko An barulah menyapa Lia yang dari tadi duduk seorang diri diluar kedai Hai Ko an menyapa dan Lia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala Lia, Ayo kita balik kata Pengky sambil menggapai tangan Lia mengajak pergi, lalu mereka berdua pamitan pada Ko An setelah apa yang Pengky inginkan tercapai walau hanya dapat Rp.300 ribu lumayan cukup buat kita sampai ke Karawang bisik Pengky pada Lia, terpancar di wajah Pengky wajah keceriaan setelah jumpa dengan saudara kandung dia, tanpa membuang waktu lagi mereka berdua jalan menuju terminal Bus untuk kembali ke Malang, dan begitu sampai di Malang Pengky mengajak Lia untuk jalan-jalan ke Batu Malang disini pengky menyarungkan cincin di jari manis Lia disebuah kedai Jagung Bakar yang ada dikawasan Batu dan Liapun menyarungkan Cincin yang sama ke jari Pengky, dan Pengky berkata anggap aja ini cincin tunangan kita sayang, Lia terharu sambil memandang cincin yang Pengky berikan, Lia dengan wajah yang berbunga-bunga menjawab iya Ko terima kasih, walaupun Lia tau cincin ini tidaklah mahal namun sangat berarti bagi Lia, Pengky mengajak Lia untuk menikmati pemandangan Batu sambil melihat dari arah dekat kawah gunung Bromo, ketika Lia melihat pemandangan ini Lia seakan tak percaya ini beneran apa mimpi sih Ko? Lia bertanya pada Pengky, ya beneranlah sayang, napa ? ngak ko Subhanallah sangat cantik tempat ini kata Lia, tidak habis -habis Lia memandang begitu besar Kuasa Allah yang sudah menciptakan sedemikian rupa alam ini dan seisinya dengan begitu sempurna, didalam hati Lia tak henti-henti berzikir dan bertahmid menyebut namaNya, semakin banyak apa yang Lia lihat semakin dekat pula Lia dengan Allah sebab Lia sangat mensyukuri apa yang ada di depan mata Lia, setiap keindahan tentunya Lia mengingat dan menyebut nama Allah karena Allah yang menciptakan semua ini,
        Tampak disana diatas kawah gunung Bromo diselimuti kabut putih Pengky menunjukkan suasan Batu memang sangat dingin, Lia tidak memakai jaket sehingga tubuh Lia menggigil kedinginan sesekali Pengky menghangatkannya dengan genggaman erat tangan Pengky, mereka santai sejenak di pondok penjual air tebu, tak lama mataharipun mulai tenggelam pertanda maqrib akan datang, Mereka bergegas untuk segera kembali kerumah Pak De nya Bobby.
Begitu sampai di rumah Pak De semua keceriaan Lia musnah seketika saat melihat wajah Susanti muram namun Lia mencoba untuk menutupinya seakan-akan tidak ada masaalah antara Lia dan Susanti yang orang lain tau hubungan baik mereka selama ini, malam ini tidak ada kegiatan apa-apa, mereka hanya milih ngobrol dengan Pak De dan Bu De diruang tamu karena besok mereka sudah mau kemmbali ke Karawang.
        Dinginnya pagi di Malang membuat Lia bangun lebih awal dari biasanya, apalagi mau bersiap-siap kembali ke Karawang, dari kejauhan kelihatan kawah gunung Bromo yang indah, Lia memandangnya untuk yang terakhir kali, Lia memandang kearah nun jauh disana dengan tatapan penuh kebahagian, hati Lia begitu damai dan tenang saat memandangnya, Lia berharap sekembalinya mereka dari Malang hubungan Lia dan Pengky semakin erat dan mesra, apalagi yang Lia bisa harapkan selain kebahagian bersama Pengky sebab sahabat yang sudah dua tahun bersama Liapun akan meninggalkan Lia karena sahabat Lia tidak merestui hubungan cinta Lia dan Pengky,
Setelah sarapan pagi mereka pamit untuk pulang ke Jakarta, dari Malang mereka naik Bus, Perjalan mereka teramat menggembirakan bagi Pengky dan Lia dan tidak untuk Susanti dia hanya bermuram durja... entah apa yang ada dalam benaknya, disepanjang perjalanan Pengky tidak sekalipun melepas genggaman tangannya yang hanya ingin memberi kehangatan pada Lia yang mulai kedinginan sbab AC dalam bus sejuk sekali dan sesekali Pengky mengecup jemari Lia dengan lembut dan Lia hanya terdiam saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KEMBALINYA ASMARAKU YANG HILANG 2

       Pertama kali Julia menginjakkan kakinya Kembali di Bumi Aceh seakan bagai dalam mimpi karena kepulangan secara tiba-tiba dan dalam k...